Tuesday, 8 January 2013

Inikah Lebaran?


Oleh: Pak Udin

Siang sudah menyeringai. Pasar penuh sesak. Ibu-ibu membawa anak-anaknya ke pasar. Bapak-bapak duduk di tempat parkir rela menunggu keluarga mereka belanja untuk lebaran. Makin terakhir makin rame suasana pasar. 

Aku mengulas senyum, senyum yang sempat terlipat beberapa hari belakangan ini. Dari sampingku suara klakson menyeruak.

“Bapak nunggu di parkir kiri ya, ma!”
“Ya, Pa. Mama belanja nggak lama kok”

Belanja? Inilah tradisi menyambut lebaran di Indonesia dan mungkin di dunia mulsim lainnya. Setumpuk tanya mengamuk dikepala. Aku yang masih melongo benar-benar dibiarkan tolol sendiri untuk mengisi teka-teki ini. Mengapa?

Aku merasa baru sejenak berjalan beberapa langkah menerobos lautan manusia di tengah pasar. Sedikit kejut. Seorang istri menjinjing seabrek belanja. Aku hanya diam dalam heran. Dia tuangkan nafsu dan sebentuk hasratnya yang sekarang telah berbentuk setumpuk kain dan baju, berpuluh-puluh toples kue (semua sangat asing di mata-sederhanaku), empat botol sirup dan seabreg belanjaan lainnya. Senyum mengalun di tiap kalimatnya. “Ayo nak, tolong bantu ibu angkat toples itu”.

Ia berlagak seperti para wanita kaya, padahal di desa suaminya seorang nelayan.

Pandangan orang-orang menerawang, otak mengawang, Jelas mereka sedang membayang hari lebaran.
Aku terus menyusuri pasar. Hendak menuju rumah kawan. Sejenak lagi obrolan “konsumeristik” menyentil telingaku.

“Sudah bu, cukup belanjanya, ”
“Lho, bukannya Bapak sendiri yang menyuruh belanja, gimana sih?”
“Aku?!” Suara suaminya tersendat di kerongkongan. Tidak bisa bicara banyak. Sang ibu terus saja menawarkan harga.

Aku terus berjalan berhimpit-himpitan bahu dengan manusia di tengah pasar. Satu lagi obrolan menjelang lebaran mampir di telingaku.

“Oh ya, ini tadi harganya berapa, ada diskonnya, kan?” Seorang Istri merogoh tas lalu mengambil empat uang ratus ribu. “Pa, ternyata masih jauh lebih murah dari yang aku kira, ya.” Sang istri melirik suaminya sambil membayar ke kasir. 

Sang suami hanya ngangguk-ngangguk. Tak tau apa yang ada di pikirannya...
Aku hanya terlongo sambil jalan. Hmm ibu-ibu memang begitu. 

Tiba-tiba otakku macet. Tak berhasrat bertukar syaraf. Apa atau siapa yang sekarang patut disalahkan. Inikah lebaran? 

Sekali lagi, aku hanya bisa mengerenyitkan dahi. Hatiku benar-benar risau....

No comments:

Post a Comment