Oleh: Pak Udin
Siang sudah menyeringai. Pasar penuh sesak. Ibu-ibu membawa
anak-anaknya ke pasar. Bapak-bapak duduk di tempat parkir rela menunggu
keluarga mereka belanja untuk lebaran. Makin terakhir makin rame suasana pasar.
Aku mengulas senyum, senyum yang sempat terlipat beberapa
hari belakangan ini. Dari sampingku suara klakson menyeruak.
“Bapak nunggu di parkir kiri ya, ma!”
“Ya, Pa. Mama belanja nggak lama kok”
Belanja? Inilah tradisi menyambut lebaran di Indonesia dan
mungkin di dunia mulsim lainnya. Setumpuk tanya mengamuk dikepala. Aku yang
masih melongo benar-benar dibiarkan tolol sendiri untuk mengisi teka-teki ini.
Mengapa?
Aku merasa baru sejenak berjalan beberapa langkah menerobos
lautan manusia di tengah pasar. Sedikit kejut. Seorang istri menjinjing seabrek
belanja. Aku hanya diam dalam heran. Dia tuangkan nafsu dan sebentuk hasratnya
yang sekarang telah berbentuk setumpuk kain dan baju, berpuluh-puluh toples kue
(semua sangat asing di mata-sederhanaku), empat botol sirup dan seabreg
belanjaan lainnya. Senyum mengalun di tiap kalimatnya. “Ayo nak, tolong bantu
ibu angkat toples itu”.
Ia berlagak seperti para wanita kaya, padahal di desa
suaminya seorang nelayan.
Pandangan orang-orang menerawang, otak mengawang, Jelas mereka
sedang membayang hari lebaran.
Aku terus menyusuri pasar. Hendak menuju rumah kawan.
Sejenak lagi obrolan “konsumeristik” menyentil telingaku.
“Sudah bu, cukup belanjanya, ”
“Lho, bukannya Bapak sendiri yang menyuruh belanja, gimana
sih?”
“Aku?!” Suara suaminya tersendat di kerongkongan. Tidak bisa
bicara banyak. Sang ibu terus saja menawarkan harga.
Aku terus berjalan berhimpit-himpitan bahu dengan manusia di
tengah pasar. Satu lagi obrolan menjelang lebaran mampir di telingaku.
“Oh ya, ini tadi harganya berapa, ada diskonnya, kan?”
Seorang Istri merogoh tas lalu mengambil empat uang ratus ribu. “Pa, ternyata
masih jauh lebih murah dari yang aku kira, ya.” Sang istri melirik suaminya
sambil membayar ke kasir.
Sang suami hanya ngangguk-ngangguk. Tak tau apa yang ada di
pikirannya...
Aku hanya terlongo sambil jalan. Hmm ibu-ibu memang begitu.
Tiba-tiba otakku macet. Tak berhasrat bertukar syaraf. Apa
atau siapa yang sekarang patut disalahkan. Inikah lebaran?
Sekali lagi, aku hanya bisa mengerenyitkan dahi. Hatiku benar-benar
risau....
No comments:
Post a Comment